Soe Hok Gie biasa di panggil Soe, Gie, Hok-gie, tapi ia tidak mau dipanggil ‘pak’ ketika ia menjabat sebagai asisten dosen dan dosen di almamaternya, FS-UI. Gie juga dipanggil Cina Kecil karena ia adalah keturunan Tionghoa dan berbadan kerempeng di jaman yang susah pada waktu itu.
Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
(Potongan puisi terakhir Soe Hok Gie sebelum melakukan pendakian terakhirnya ke Gunung Semeru) 5 November 2013, aku memulai hari layaknya hari-hari biasa. Kebetulan hari itu juga bertepatan dengan jatuhnya tahun baru 1435 hijriah sekaligus hari libur nasional yang tentunya membuatku tidak perlu terburu-buru memulai hari untuk mengajar di sekolah.
Kemudian, Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango menjadi persemayaman abu jasad Gie untuk selamanya. Baca juga: Panduan Mendaki Gunung Gede Pangrango saat Musim Hujan Kini, kompleks yang dulunya dikenal sebagai pemakaman Kebon Jahe Kober telah beralih wajah menjadi Museum Taman Prasasti .
.
puisi soe hok gie lembah mandalawangi